Secara Sembunyi, Mereka Kendalikan Revolusi

Jika kita menyadari bekas peninggalan dari sisa-sia rezim lama di dalam negeri masih bisa terdeteksi, maka sisa-sisa sekutunya yang ada di luar negeri masih samar bagi kita. Walau demikian, di depan kita ada bukti yang menjelaskan kepada kita bagaimana mereka berpikir dalam masalah itu dan memprediksi sebelum terjadi menjadi kenyataan. Sehingga kita bisa mengungkapkan keinginan mereka itu setelah hal itu terjadi.

Penulis akan berbicara tentang telaah Israel terkait hubungannya dengan Mesir, seperti yang dipandang oleh Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel, Avi Dichter dalam kuliahnya yang ia sampaikan di depan para mahasiswa di Institut Kajian Keamanan Nasional di Tel Aviv bulan September 2008 lalu. Dalam kuliah tersebut ia menjelaskan sikap Israel terhadap sejumlah perubahan yang mungkin akan terjadi di beberapa negara di kawasan Timur Tengah. Salah satunya adalah Mesir. Kuliah tersebut adalah kuliah yang paling penting yang pernah penulis isyaratkan dari kuliah-kuliah sebelumnya. Akan tetapi penulis menemukan bahwa telaah kuliah itu menjadi sangat urgen pascarevolusi tanggal 25 Januari 2011. Sebuah telaah yang tidak terbayangkan oleh siapapun, baik kita (baca: Arab dan Islam) dan mereka (Israel) ataupun siapa saja yang tinggal di bumi ini. Hal itu karena mereka memandang bahwa perubahan “dramatis” yang terjadi di Mesir, tidak keluar dari tiga kemungkinan, seperti yang dinilai oleh Dichter. Ketiga kemungkinan itu terangkum dalam tiga skenario berikut ini:

– Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM) menguasai kekuasaan dengan cara yang illegal, yaitu melalui jalur diluar kotak pemungutan suara. Dengan sendirinya, skenario ini menciptakan kondisi ekonomi dan sosial sangat tidak stabil di Mesir. Hal mana menjadikan penguasa tidak mampu mengendalikan situasi dan menyebabkan kondisi keamanan tidak terkendali. Bahkan akan menjurus kepada kekacauan. Dalam situasi seperti ini, IM akan bisa mendapatkan kesempatan mewujudkan targetnya mencapai kekuasaan.

– Terjadinya kudeta militer, kemungkinan ini ditampik oleh para perancang strategis Israel untuk masa dekat ini. Karena mereka menganggap situasi dan kondisi Mesir masuk ke dalam kondisi bahaya. Sehingga mendorong para petinggi militer memiliki ambisi untuk merebut kekuasaan. Akan tetapi bagi Israel ada banyak faktor yang menyebabkan kemungkinan ini dianggapnya sebagai sekedar asumsi semata. Maka mereka menganggapnya jauh dari kemungkinan terjadi.

– Situasi dan konsisi Mesir semakin tidak terkendali, dimana tidak ada yang bisa mengatur negara pasca lengsernya Mubarak. Padahal Israel sangat mengandalkan satu dari dua orang pengganti Mubarak, yaitu Jamal Mubarak atau Omar Sulaiman. Sehingga menyebabkan kekacauan merebak di seantero Mesir. Sebuah kondisi yang mendorong upaya untuk mencari pilihan yang lebih baik berupa pelaksanaan pemilu yang bebas dibawah pengawasan internasional, diikuti oleh semua kelompok politik dan gerakan yang lebih mengakar seperti gerakan Kefayah. Yang pada akhirnya memunculkan di permukaan sebuah peta baru pada interaksi internal.

Setelah menyampaikan tiga skenario di atas, Dichter mengomentari dengan mengatakan: “Pada setiap kondisi, mata kami dan Amerika selalu memantau dan mengawasi. Bahkan bisa campur tangan langsung agar tidak terjadi tiga skenario tersebut. Karena akan menjadi malapetaka bagi Israel, Amerika dan Barat.”

Dalam pidatonya, menteri keamanan dalam negeri Israel itu memfokuskan pada dua titik, yaitu: kepentingan Israel adalah menjaga kestabilan situasi di Mesir pasca lengsernya Presiden Hosni Mubarak dan menghadapi berbagai perkembangan yang dampaknya buruk. Yaitu terjadinya perubahan-perubahan yang bertentangan dengan prediksi-prediksi Israel. Titik kedua; apapun kondisinya, penarikan diri Mesir dari perjanjian damai dan kembali ke garis perlawanan melawan Israel, merupakan garis merah yang tidak boleh dilewati. Pemerintah Israel pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi dan menggunakan segala cara untuk menghadapi sikap seperti ini.

Petinggi Israel itu menilai bahwa hubungan antara Israel dengan Presiden Mubarak “Lebih dari sekedar hubungan biasa”. Bahkan Mubarak mengizinkan kepada para pejabat Tel Aviv menentukan sejumlah arahan kepada Mesir yang terangkum dalam beberapa hal berikut ini:

– Pengokohan dan penguatan hubungan dengan tim Presiden Mubarak, dengan pejabat penguasa di Partai Nasional Demokrat dan dengan kelompok pebisnis.

– Memperluas basis hubungan dengan sistem politik, ekonomi dan media melalui keterkaitan kepentingan bersama yang bersifat positif bagi kedua belah pihak.

– Berupaya untuk memoles hubungan yang lebih kuat dengan para penggiat media di Mesir karena urgensi peran media massa dalam pembentukan opini umum dan mengkristalkan pandangan-pandangannya.

– Israel sangat konsen untuk membangun hubungan di sektor-sektor itu dan bersepakat dengan dua tokoh paling kuat di Mesir yang akan memainkan peran utama memegang tampuk kekuasaan pascalengsernya Presiden Mubarak. Dua tokoh tersebut adalah putera Presiden Mubarak, Jamal Mubarak dan Kepala Badan Intelijen Mesir, Jendral Omar Sulaiman.
Dichter masih menambahkan bahwa Amerika dan Israel, keduanya bergerak secara masif untuk menjamin sistem yang sekarang berlaku di Mesir. Keduanya, melalui sejumlah perwakilan keduanya di Mesir (kedubes, konsulat dan pusat-pusat lainnya) konsen untuk memberikan bantuan bagi kampanye Jamal Mubarak menjadi presiden menggantikan bapaknya. Tujuan dari itu adalah untuk memperkokoh posisi Jamal Mubarak menang dengan dukungan dari rakyat dan opini umum Mesir. Membantu berbagai aktivitas sosial dan kebudayaan Jamal agar menjadi orang yang lebih diterima di masyarakat dibandingkan bapaknya.

Kedua negara, Amerika dan Israel, berupaya untuk menjaga sistem yang ada. Terkait hal itu, Amerika dan Israel membuat strategi permanen yang dijelaskan oleh Dichter sebagai berikut:

– Sejak Amerika masuk ke Mesir pasca wafatnya Presiden Jamal Abdul Naser kemudian digantikan oleh Anwar Sadat, mereka mengerti bahwa harus dibangun dukungan keamanan, ekonomi dan kebudayaan di penjuru negeri . Seperti yang dilakukan Turki pasca perang dunia kedua. Dari keyakinannya, Amerika dan Israel bergerak membendung hal-hal mendadak yang tidak menyenangkan terjadi di Mesir. Rencana Amerika yang mencakup sisi tersebut, berpijak pada sejumlah faktor, diantarannya:

* Membangun kerja sama dengan elemen dan kekuatan yang berpengaruh di masyarakat Mesir, bekerjasama dengan level pemimpin, level para pebisnis, petinggi media dan politik.

* Kerja sama keamanan dengan dua badan untuk melindungi keamanan internal, yaitu degan Badan Intelijen Negara dan Departemen Dalam Negeri (depdagri) berikut pasukan yang berada dibawah kontrol depdagri.

* Mempersiapkan pos-pos strategis di dalam kota-kota utama, sebagai pusat penentu kebijakan, seperti kota Kairo, Alexandria, Ismailiah, Terusan Suez dan Port Said.

* Menjaga pasukan gerak cepat Marinir di titik-titik sensitif di Kairo, Garden City, Al Jizah, Misr Gadedah, yang memungkinkan penyebaran pasukan dalam beberapa jam dan menguasai jantung kehidupan di Kairo.

* Menyiagakan pasukan laut dan pesawat-pesawat tempur Amerika di pangkalan di dalam Kairo dan kota-kota sekitarnya seperti Hurghada, Suez dan Ras Banas.

Dichter mengomentari titik-titik di atas dengan mengatakan;”Kami tidak bisa memastikan bahwa kami bisa mewujudkan apa yang didambakan, berupa jaminan-jaminan yang dengan itu akan bisa menutup kemungkinan-kemungkinan yang tidak disukai oleh Amerika dan Israel. Namun di lapangan, kami berhasil sukses mewujudkannya.

Disamping berbagai proses yang sudah ditentukan, Israel mengeluarkan daya upaya untuk membantu rezim Mubarak melalui seruan kepada sekutu Amerika untuk tidak mengurangi bantuan yang diberikan kepada Mesir. Hal ini dilakukan agar bisa menguatkan posisi Presiden Mubarak mampu menghadapi tekanan-tekanan sosial dan ekonomi yang kalau terjadi guncangan-guncangan akan menggoyahkan kekuasaan Mubarak.

Untuk menilai kondisi di Mesir, Dichter menyebutkan bahwa krisis ekonomi dan sosial seperti itu, tidak ada solusinya. Ia mengatakan bahwa setiap perubahan ekonomi yang diterapkan di Mesir di masa Mubarak, tidak bisa membantu menyelesaikan krisis tersebut. Bahkan bantuan Amerika per tahun ke Mesir yang mencapai US$ 2,5 milyar tidak bisa memberikan solusi di struktur ekonomi dan sosial Mesir. Karena memang ada struktur yang cacat di dalam ekonomi Mesir yang susah untuk dicarikan solusinya hanya mengandalkan bantuan-bantuan. Bantuan tersebut hanya penenang saja untuk meringankan penyakit bersifat sementara, namun krisis akan kembali muncul dan membesar. Sebagai hasilnya adalah kondisi dan situasi di Mesir kembali ke awal-awal tahun 1952, dimana terjadi kudeta militer yang dilakukan oleh para perwira militer. Hal mana membuat khawatir rezim Mubarak, begitu juga Amerika dan Uni Eropa.
Sebuah kondisi yang mungkin akan terjadi perubahan yang tidak diinginkan. Jika itu yang terjadi, maka implikasinya tidak hanya mengena kepada Mesir saja, tapi juga terhadap negara-negara kawasan secara umum.

Apakah disana ada ancaman serius yang akan menyebabkan perubahan rezim di Mesir. Jika jawabannya positif, lalu apa yang dipersiapkan Israel menghadapi kemungkinan tersebut? Avi Dichter menyebutkan bahwa pertanyaan itu sering disampaikan di dalam pusat-pusat kajian strategis di Israel. Untuk menjawabnya, Dicgter mengatakan sebagai berikut: “Rezim di Mesir sudah membuktikan mampu untuk mengendalikan krisis. Mereka juga membuktikan mampu untuk beradaptasi dengan situasi krisis. Walau demikian disana ada ancaman yang ditimbulkan oleh adanya kompleksitas masalah dan krisis internal di bidang sosial, ekonomi bahkan politik sekalipun. Kini, Partai Nasional Demokrat, yang dipimpin oleh Mubarak, menguasai kehidupan politik.

Terkait dengan cara khusus Isarel untuk menghadapi perubahan serius apapun yang terjadi di Mesir, seorang mantan menteri Israel menegaskan bahwa negara Zionis selalu mengadakan koordinasi dengan pihak Amerika dalam setiap hal yang terkait dengan masalah tersebut. Pada saat yang sama, Israel siap menghadapi keadaan darurat apapun, termasuk soal kembalinya semenanjung Sinai jika dipandang perubahan itu berbahaya. Hal itu akan menyebabkan terjadinya kudeta politik Mesir terhadap Israel. “Jika kita menarik pasukan dari Sinai maka kita menjadi tergadai,” tambah mantan menteri tersebut. Ketergantungan ini akan diback-up oleh jaminan Amerika, salah satunya mengizinkan Israel untuk kembali ke Sinai jika memang dibutuhkan. Begitu juga adanya konsekuensi keberadaan pasukan Amerika yang siap siaga di Sinai, memiliki kebebasan bergerak dan kesiapan memantau. Bahkan kalau perlu menghadapi sikap yang paling buruk dan tidak menarik pasukan dalam situasi apapun.

Dalam kaitan ini, pejabat Israel itu menyebutkan bahwa Israel sudah bisa mengambil pelajaran dari perang tahun 1967 yang tidak pernah mereka lupakan. Oleh karena itu Sinai menjadi tempat yang bebas dari senjata dan militer Mesir dilarang untuk disebar di wilayah tersebut. Itulah jaminan yang paling kuat untuk mengendalikan ancaman apapun yang mungkin datang dari sisi Mesir. Hal ini memperkuat pandangannya yang menyatakan bahwa Israel, dalam situasi apapun, tidak akan mundur dari komitmennya untuk mengosongkan Sinai dari persenjataan apapun. Ia menambahkan, ketika Mesir meminta memasukkan 600 personil aparat kepolisian, pasukan penjaga perbatasan dan keamanan pusat, untuk berkonsentrasi di perbatasan dengan Jalur Gaza, permintaan itu dikaji secara serius dari tim keamaan serta melalui perjuangan sulit hingga disetujui oleh pemerintah (Israel).

Di akhir pidatonya, Avi Dichter mengatakan bahwa aturan yang mengatur posisi negara Zionis adalah Mesir keluar dari medan perlawanan menentang Israel dan tidak akan kembali lagi. Prinsip ini yang mendapatkan dukungan kuat dari Amerika.

Pemaparan ini menimbulkan berbagai pertanyaan seputar karakter resonansi yang dihasilkan oleh revolusi 25 Januari di dalam Israel. Juga seputar nasib kesiapan dan pilar yang sudah disiapkan untuk bekerjasama dengan Amerika di dalam Mesir menghadapi berbagai kemungkinan “dramatis”. Khususnya jika terjadi diluar yang mereka prediksikan dan muncul orang yang tidak mereka inginkan. Sesungguhnya kita tidak tahu apa-apa yang terjadi di bawah permukaan atau yang terjadi di belakang layar. Namun kita tidak boleh memandang bahwa mereka diam saja dan tidak peduli. Oleh karena itu, kita berhak bertanya tentang hakekat peran yag mereka mainkan saat ini di bawah meja dan jauh dari pandangan orang.

Oleh: Fahmi Huwaedi

Posted on April 24, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: