Kewajiban Dakwah buat Cewek juga ya???

All for one and one for all, Apa sih maksudnya? Kok kayak semboyannya Robin Hood aja? Tahukah kamu bahwa kali ini kita akan membahas sedikit permasalahan dakwah. Ih, kayaknya berat amat nih!
Sebetulnya nggak berat juga kok. Cuma ingin membahas tentang kreativitas kita sebagai muslim yang juga punya kewajiban buat mendakwahkan Islam, bagaimana kita melakukan terobosan-terobosan dakwah kepada lingkungan yang belum atau sulit terjangkau dakwah, dan sebagainya. Pusing? Jangan dulu, mendingan kamu simak aja terus Blog ini.

Dakwah sebagai Kewajiban Tiap Muslim
Kamu tahu nggak, apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan dakwah itu? Ya, kalau diartikan secara luas, dakwah itu adalah suatu perbuatan yang dilakukan sekelompok orang dengan metode, sasaran, dan target tertentu dengan tujuan agar orang mengikuti apa yang akan diserukan. Nah, kita sebagai orang Islam, muslim gitcu, tentu juga punya kewajiban untuk mendakwahkan nilai-nilai Islam yang tinggi yang telah kita pahami kepada masyarakat luas.
Benar nggak sih dakwah itu suatu kewajiban? Benar sekali! Banyak ayat-ayat Al Quran yang menyatakan hal itu baik secara tersirat maupun tersurat. Misalnya saja di QS 16:125 yang berbunyi :
“Serulah (dakwahilah) manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan berdebatlah (berdiskusilah) dengan mereka dengan cara yang lebih baik lagi.”
Tuh betul kan, wajib? Atau kamu juga bisa lihat di ayat-ayat lain, misalnya surat 3 ayat 79.
Tapi ada juga lho orang-orang yang berpendapat seperti Nita. Ia bilang “Ah, saya sih nggak bisa apa-apa. Kalau urusan dakwah sih serahkan saja sama ahlinya. Toh banyak dai-dai yang baik. Ada ustadz, ustadzah, misalnya saja dai sekelas Ustadz Zainuddin MZ atau Hari Mukti, misalnya. Ntar, kalau saya ikut-ikutan dakwah bisa kacau. Saya kan nggak paham ilmunya. Apalagi saya pakai jilbab, disamping itu saya juga merasa belum sanggup. Ntar kalau saya berdakwah baru sedikit aja, orang-orang pada bilang,…alah si Nita mah omdo (omong doang).”
Memangnya harus begitu? Tentu tidak lah ya! Di Quran memang disebutkan bahwa yang dikuatkan untuk berdakwah cuma segolongan saja (QS 3:104, 9:122). Nah, segolongan orang itu yang bagaimana? Ya, segolongan orang itu adalah yang tahu dan paham dan sekaligus sudah menjalankan salah satu perintah Allah. Ingat lho ada hadits yang berbunyi “Sampaikanlah walau satu ayat”. Jadi maksudnya, kita nggak mesti mendekati sempurna dulu baru mulai berdakwah. Mulai saja dari sekarang. Misalnya Nita yang belum berjilbab tapi amat rajin berinfak, bukankah bisa menganjurkan sekaligus mencontohkan kepada teman-temannya untuk rajin berinfak atau Dida yang pandai mengaji dan memasak juga bisa menularkan ilmunya pada lingkungannya, seperti ilmu baca Quran dan cara memasak makanan yang halal dan thayyib.
Lagipula berdakwah itu nggak harus dengan lisan kok. Bisa juga dengan perbuatan seperti yang dilakukan Nita dan Dida tadi. Dengan mencontohkan sesuatu yang baik sambil memberikan anjuran, gitu lho! Atau kamu senang menulis? Kirim tulisan kamu dengan nuansa islami lalu kemas dengan bahasa yang menarik. Kami dan media massa lain sangat menanti tangan dingin seperti kamu lho.
Jadi, berdakwah bukan cuma tanggung jawab para ustadz dan ustadzah saja. Setiap manusia memiliki tanggung jawab yang sama. Hanya mungkin caranya saja yang berbeda. Kita bisa berdakwah secara formal misalnya menjadi pembicara pada kajian-kajian Islam, membina pengajian, membina TPA atau mengajar Iqro. Berdakwah juga dapat dilakukan secara informal seperti menulis, mengajak teman berdiskusi secara personal atau memasak. Yang penting memang kreatifitas kita kudu berkembang terus, disamping wawasan dan ilmu serta pengamalan Islam kita juga mesti terus bertambah. Jangan mandeg dan bekerjasamalah, jangan sendiri-sendiri (QS 61:4, 3:103), kemudian konsistenlah, samakan ucapan dan perbuatan (QS 61:2-3), serta bersungguh-sungguhlah dalam kerja dakwahmu (QS 49:15, 9:105). Keep the spirit of jihad, ukhti muslimah!

Menggali Ladang Yang Subur
Tulisan tentang aktivitas saudara-saudara kita di Lab Mend dengan Dakwah at the Mall-nya mungkin telah mulai membuka kesadaran kita tentang ladang-ladang (sasaran dakwah) yang cukup potensial untuk kita garap. Dalam contoh Lab Mend, kita lihat bahwa yang jadi sasaran terutama mereka adalah masyarakat mall alias orang-orang yang hobbynya ngabuburit di mall. Gimana caranya supaya ngabuburit mereka kali ini menjadi lebih bermakna, paling tidak membuka sedikit saja cakrawala pikiran dan hati mereka terhadap nilai-nilai Islam. Jadi ngabuburitnya not just wasting time and money. Kreatif kan?
Pada kenyataannya, setelah diamati diam-diam, ternyata golongan yang dianggap paling mudah dan paling banyak menyerap dakwah Islam adalah golongan tertentu dengan ciri-ciri antara lain berpendidikan cukup tinggi, jadi nggak heran kalau di SMU-SMU atau di kampus-kampus kegiatan islamnya cukup marak dan diminati. Selain itu, golongan berstatus sosial ekonomi menengah, dan memiliki sifat dasar hanif alias nggak neko-neko.
Tapi apakah cuma golongan yang seperti itu aja yang layak didakwahi? Ya nggak lah, Islam itu untuk semua umat, nggak peduli golongannya. Lagian yang menggolong-golongkan manusia ya manusia itu sendiri. Kadang-kadang yang mau berdakwah pun jadi ‘agak pilih-pilih tebu’, ada ladang subur, ada ladang tandus. Tentu tidak boleh begitu. Subur atau tidak suburnya suatu ladang dakwah kan tergantung dari si pengolahnya juga, bagaimana cara dia mengolah ladang itu, disamping hidayah Allah juga tentunya.
Tentu pada akhirnya, kita tidak bisa terburu-buru memvonis, ladang ini subur atau tidak. Coba saja dulu. Soal hidayah, itu urusan Allah. Kita hanya membantu mempercepat sampainya hidayah itu. Dan ingat, kita nggak bisa memaksakan sebuah perubahan secara cepat. Bahkan ada yang sampai beberapa waktu baru bisa berubah. Walau cuma sampai taraf memahami Islam untuk dirinya sendiri juga sudah bagus. Dengan begitu, mereka sudah menjadi pendukung (mu’ayyid) dakwah Islam. Iya nggak? Jangan deh memaksa semua sasaran, dakwah kita bisa benar-benar aktif sebagai penggerak (muharrik) dakwah Islam. Ingat, dakwah Islam bisa tegak karena ada kerja sama yang erat dan rapi antara pendukung dan penggeraknya. OK?

Nah, sekarang gimana caranya berdakwah dengan baik? Kita coba yuk…

1. Niatkan ikhlas lillahi ta’ala tetapi jangan niat buat ngetop, misalnya.
2. Cari dan kembangkan potensi yang ada pada diri kita.
3. Cari sasaran dakwah yang pas dengan kemampuan kita, misalnya si mbok di keluarga kita
4. Intensifkan sasaran tadi, sambil tetap berdakwah buat diri kita.
5. Cari sarana dakwah yang pas dengan sasaran.
6. Kembangkan terus ilmu dan wawasan kita. Selain itu ikuti kajian-kajian Islam secara intensif.
7. Bekerjasamalah dengan teman-teman seide, juga dengan sasaran dakwah kita untuk terus mengembangkan
dakwah kita tadi.
8. Lakukan evaluasi dan peningkatan terus-menerus.

Nggak ada salahnya kok kita mulai dari sekarang. Selama hayat masih dikandung badan maka selama itulah kewajiban dakwah masih melekat pada kita. Selama kita masih mengaku muslim maka kita adalah pendakwah yang memiliki potensi yang Allah berikan kepada kita. Selama masih ada orang muslim dalam setiap jengkal tanah di alam raya ini, maka mereka berhak menerima dakwah Islam. All for one, and one for all !

Alhamdulillah, aku dapat hidayah
Alhamdulillah, kuingin engkau juga

Posted on April 25, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: