Membangun Negeriku

Sering kita bercita-cita tinggi untuk sampai ke negeri orang. Untuk melihat bagaimana keindahan negeri luar seperti yang tercerita di buku-buku atau di gambar berjalan. Namun, kita tidak menyadari, sebenarnya yang paling kita rindu itu adalah kampung halaman. Seindah-indahnya tanah rantau namun yang paling indah tetap tanah kelahiran. Hal ini terbukti ketika liburan, hmm maunya cepat-cepat pulang, tidak apa walau hanya menjejak kaki sebentar saja.
Di tanah rantau pun yang dicari adalah anak-anak satu daerah kelahiran. Bisa saja berteman dengan semua orang, tapi tampaknya semangat kesukuan itu masih tinggi. Yah bukannya apa, anda pasti akan lebih nyambung berbicara dengan orang yang berbahasa dan berbudaya sama walau baru bertemu semenit yang lalu.
Setiap anak rantau pasti bemimpi untuk memajukan tanah kelahirannya. Pulang ke kampung halaman dan mengabdi di sana. Tentu saja ini pengecualian untuk orang-orang yang tidak normal atau sebenarnya ia tidak mempunyai darah dari tanah tersebut semisal kedua orang tuanya berasal dari daerah lain. Begitupun dengan diriku sekarang. Bermimpi besar untuk menggunakan tangan ini untuk pulau tanah kelahiranku.
Ada seorang teman yang mengatakan padaku bahwa ia ingin cepat-cepat pulang ke Padang, ingin mengabdi ke sana. “Aku kelahiran padang, lahir dan dewasa di sana, aku mengerti bahasa mereka, mengerti budaya dan pola fikir mereka, dan aku tau apa yang harus ku lakukan untuk mereka”. Kata-kata ini menghujam ke sanubariku. Terlintas lagi cita-cita ku dahulu. Ingin merantau ke tanah Jawa, bekerja, sukses dan membangun keluarga di sana. Tapi tampaknya itu adalah cita-cita egois anak remaja. Dan aku baru sadar, setiap orang dilahirkan untuk orang lain. Sebaik-baik orang adalah orang yang banyak bermanfaat untuk orang lain. Dan setiap orang menggunakan potensi terpendamnya untuk bermanfaat bagi orang lain.
Potensi terpendamku adalah satu : Aku kelahiran Labuhan Batu, dibesarkan si sana, mengerti bahasa dan budaya mereka, dan tau apa yang harus ku lakukan untuk mereka. Yah, membangun Labuhan Batu, itulah yang harus dilakukan.
Membangun tidak harus menjadi “Pemegang Kebijakan” walau sangat besar artinya jika bisa menjadi orang besar. Membangun adalah jika kau bisa merasakan ketidakpuasaan mereka, penderitaan dan kemudian bermimpi dan berjuang untuk merubahnya. Membangun adalah jika kau dapat merasakan sesuatu yang stagnan dan hadir menggebrak supaya hal tersebut berombak dan melaju pesat.
Mungkin seperti itulah Labuhan Batu sekarang. Sebuah Daerah indah yang kebanyakan penduduknya makmur namun berleha-leha dengan kemakmurannya tersebut. Kekayaan alam yang tersimpan di bawah Labuhan Batu tidak akan lama bertahan sehingga penduduk di atasnya harus mengusahakan cara lain dan hal ini tidak juga disadari kebanyakan orang.
Anak-anak di daerah ini, sedikit yang berdarah pejuang. Sedikit yang ingin maju. Berdarah pejuang kumaksudkan adalah anak-anak yang mengerti tentang apa gunanya sekolah dan pendidikan. Sekolah hanya sekadar sekolah, dapat ijazah, lulus, kuliah, lulus, sarjana, cari pekerjaan, dan untung-untung semuanya tidak dilalui dengan ‘nyogok’ (menyuap). Ketika sudah bekerja, korupsi dan tidak tau esensi dari pekerjaannya. Mereka tidak mengetahui kalau arti dari polisi, PNS, guru, dokter, bupati itu sama dengan PELAYAN MASYARAKAT. Bekerja asal bekerja, dapat gaji, dan tidak tau kemana kan dibawa negeri ini. Bagaimana Indonesia dapat bersaing dengan negara asing, kalau begini?
Untuk itulah, kita para putera-puteri negeri hadir. Ingatlah dan kenanglah sejarah, bagaimana penggerak kemerdekaan dulu adalah para pribumi yang belajar di sekolah Belanda, tergerak dan tercabik-cabik hati mereka mendengar bahwa bangsanya sekarang sedang dijajah. Begitulah kita sekarang, para putera-puteri Indonesia, kita hadir untuk rakyat, memikirkan mereka, dan bekerja untuk mereka. Walaupun kata terjajah tidak sama lagi artinya dengan kemarin, tapi harus diakui Indonesia sekarang masih tetap terjajah dengan cara yang berbeda.
Untuk rakyatku, tunggulah,, tunggulah!!. Akan banyak “KAMI” yang sedang berjuang membenah diri, mengipas ngipas nyala keidealismean agar tidak padam, berjuang memasukkan ilmu-ilmu yang banyak ini. Dan nantinya ketika “KAMI SIAP”, kamu akan kembali dan kita bangun bersama negeri ini, hingga kelak kita tidak hanya sekadar bermimpi agar setiap anak bisa sekolah, setiap orang bisa sehat atau setiap keluarga bisa makan, tapi kita bermimpi, berjuang dan mewujudkan negeri ini dapat bersaing dan sejajar dengan negeri-negeri asing dalam Sains, Teknologi, Ekonomi, Politik dan lainnya. Sejajar ataupun melebihi mereka. Semangat teman-temanku! Semangat negeriku! Semangat para pemimpin! semoga ridho Allah selalu menyertai kita.

Posted on Mei 31, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: